Minggu, 03 Januari 2016

Pantai Sawarna

Tempat Wisata di Garut - Pantai Sawarna adalah obyek wisata pantai baru di segi selatan Provinsi Banten. Serta mulai sejak th. 2000-an mulai banyak pengunjung yang berkunjung ke Pantai Sawarna. Nama Pantai Sawarna popular melalui dunia maya serta termasuk juga object wisata baru yang popular di era itu. Obyek wisata lain yang mungkin jadi obyek wisata baru yaitu Pantai Indrayanti di Yogyakarta serta Website Gunung Padang di Cianjur Jawa Barat.

Lokasi itu dulunya berbentuk rimba pantai yang di kenal dengan nama Desa Siluman. Lokasi eks desa siluman ini saat ini bangkit jadi maksud wisata yang lebih menarik dari pada Pelabuhan Ratu di Sukabumi. Pantai itu masih tetap ada dalam satu garis pantai dengan Pelabuhan Ratu. Lokasi itu bisa disebutkan juga sebagai mutiara baru di selatan Banten.

Pantai itu mempunyai kekhasan. Gerbang pantai Sawarna dengan Desa Sawarna dipisahkan oleh aliran sungai dangkal yang cukup lebar. Siapa saja yang mau pergi ke desa itu mesti melalui jembatan kayu gantung. Pasti in imenjadi pengalaman unik serta menantang seperti tengah ikuti outbound.

Nah, jika anda membutuhkan informasi tentang berbagai Tempat Wisata di Garut, anda dapat melihat di Website utamanya di www.wisatadigarut.com

Tempat serta Akses

Pantai Sawarna terdapat di Desa Sawarna, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Banten. Berjarak 150 km dari Rangkasbitung, Ibu Kota Kabupaten Lebak. Pesona Pantai Sawarna sangatlah komplitdengan ada gelombang spektakuler serta menantang untuk beberapa pencinta berolahraga selancar. Satu diantara tempat favorite peselancar mancanegara yaitu Ciantir.

tempat pantai sawarnaPemerintah belum lihat serius potensi wisata Pantai Sawarna. Itu tampak dari belum ada panduan arah di papan panduan jalan warna hijau keluaran DLLAJ. Diluar itu, jalan untuk ke pantai ini dapat masih tetap belum mencukupi. Tetapi janganlah cemas, penggemar wisata pantai serta fotografi telah banyak yang membahas keindahan serta serba-serbi pantai Sawarna. Termasuk juga kehadiran website itu yaitu mendatangkan info potensi pantai Sawarna.

Pantai Sawarna dapat ditempuh dari dua arah, yakni dari Jakarta ke arah Barat lewat Pandeglang atau dari Jakarta ke selatan lewat Pelabuhan Ratu di Sukabumi serta menyusur pesisir selatan. Rute Jakarta-Tangerang-Tigaraksa-Lebak-Malingping-Bayah dapat mengonsumsi saat 6, 5-7 jam. Tengah Rute Jakarta-Sukabumi lewat Pelabuhan Ratu cuma butuh 4, 5 jam saja. Pada umumnya, untuk sekarang ini melalui Sukabumi tambah nyaman dengan jalan yang semakin bagus dari Lebak ditambah banyak pesona alam sepanjang perjalanan. Bila satu waktu pemda Banten bikin akses ke Pantai Sawarna dengan jalan 4 lajur seperti Tigaraksa, pasti bakal lebih cepat lewat Tigaraksa-Lebak.
Keindahan Pantai Sawarna

Menurut pembicaraan warga setempat, untuk sekarang ini saja sekurang-kurangnya telah beberapa ratus pengunjung sehari-harinya. Serta bertandang sebagian jam saja masih tetap merasa kurang untuk mengeksplorasi seluruhnya pesona alam di sektiar pantai Sawarna. Memanglah belum ada pengelola yang mempersiapkan beragam sarana serta info tetapi warga setempat banyak yang berinisiatif untuk bikin homestay dengan tarif Rp 120. 000, - per orang /hari telah termasuk juga makan.

Keadaan homestay relatif sama. Cuma saja ada yang memiliki yang berniat melengkapi sarana dengan penyejuk ruang (AC) serta TV parabola. Satu diantaranya yaitu Hula-hula Homestay, anda dapat menghubungi ibu Mila di nomer HP 081646992036.

Bila ada saat, luangkan untuk bermalam 2-3 hari di Pantai Sawarna. Di seputar pantai itu ada banyak keindahan alam yang masih tetap perawan dengan kata lain belum di kembangkan jadi obyek wisata. Beberapa tempat eksotik ini salah satunya Tanjung Monitor, Pulau Bokor (Cipamadangan), Pulau Manuk, serta Gua Laylay. Gua Laylay yaitu kerajaan kelelawar lantaran ditempati beberapa ribu kelelawar liar. Serta mungkin saja saja mungkin saja batman di Gua Laylay.

Dengan keindahan alam di Pantai Sawarna itu, banyak penggemar fotografi bereksplorasi. Banyak juga wisatawan mancanegara yang sudah bertandang, satu diantaranya dari Denmark. Mudah-mudahan dengan adanya banyak kabar berita didunia maya (internet), pemerintah setempat sadar untuk memajukan lokasi itu jadi obyek wisata favorite dengan akses jalan yang ideal

Rabu, 23 Desember 2015

Tidore Yang Sepi Tidore Yang Membuat Jatuh Hati

Begitulah pembicaraan singkat saya serta Acho satu hari saat sebelum kami pergi ke Tidore. Perjalanan diawali dengan cara simpel. Spontan. Tanpa ada gagasan yang njelimet. Perjalanan itu seperti mewakili diri saya. Karenanya tanpa ada butuh banyak argumen, saya demikian menyukai perjalanan yang sudah jadi hidup itu. Tanpa ada terikat saat maupun daftar-daftar spesifik. Saya yakin, di tiap-tiap langkah, perjalanan menaruh narasi serta menyingkapkan misterinya.

Mendekati matahari bergantung lurus diatas kepala, kami sudah tiba di dermaga penyeberangan. Perahu ke Tidore baru bakal pergi bila jumlah motor yang bakal mereka angkut sudah meraih 12 unit, motor kami yaitu yang pertama mengantri. Tak hingga 1/2 jam, dua belas motor telah terkumpul di bibir dermaga. Nyatanya mobilitas orang-orang Ternate-Tidore atau demikian sebaliknya cukup tinggi. Lihat Juga : Tempat Wisata di Garut


“Tidore ini tak seramai Ternate” kalimat Acho satu hari pada awal mulanya dapat dibuktikan saat kami melewati jalanan di Tidore. Jalanan merasa lega lantaran jumlah kendaraan yang melintas sedikit. Hal semacam ini bikin berkendara di Tidore merasa sangatlah nyaman. Di lebih lantaran keadaan jalan yang mulus serta udaranya yang fresh lantaran banyak pohon di kiri-kanannya. Terasa seperti jalan di jalanan komplek perumahan elegan. Saya memikirkan enaknya bersepeda disini.

Mendadak Acho hentikan motor di dekat tugu berupa buah cengkeh. Tak merasa kami sudah tiba di tujuan pertama, benteng Tahula. Tangga menanjak berwarna hijau dengan kemiringan seputar tujuh puluh lima derajat mesti dilalui untuk hingga di benteng. Perlu perjuangan yang cukup berat untuk melalui tangga itu. Mungkin saja oleh karena itu benteng itu di bangun di ketinggian, supaya tak gampang dikalahkan.

Benteng Tahula usai di bangun pada 1615 oleh Spanyol serta dinamakan Santiago de los Caballeros de Tidore. Terdapat di jalan Sultan Syaifuddin, desa Soa Sio, kecamatan Tidore. Benteng itu di bangun membuat perlindungan kapal-kapal mereka waktu berlabuh di laut Tidore. Sesudah Spanyol meninggalkan Tidore, benteng itu dihancurkan oleh Belanda yang berkuasa ketika ini. Bangunan yang berdiri saat ini yaitu hasil renovasi dari bekas benteng yang masih tetap ada. Masih tetap tampak menarik, tetapi kabel listrik yang dipasang di bangunan benteng merasa mengganggu keindahannya.

Rasa haus datang sesudah nikmati benteng itu ditengah cuaca panas serta hembusan angin yang menyejukkan. Sesudah memperoleh minuman di satu mini market, Sadam serta Oji—dua orang rekan Acho—mengajak kami nikmati kelapa muda di kebunnya. Tawaran yang sungguh-sungguh tak dapat tidak diterima pada siang yang panas. Rio Satrio

Delapan buah kelapa muda berkulit hijau sudah menyongsong waktu kami hingga. Saya memberikan pujian pada pemanjat yang pas pilih buah kelapa untuk di nikmati. Airnya yang fresh serta daging buah yang lembut bisa jadi pengganti makan siang.

Percakapan sepanjang nikmati kelapa muda dengan Sadam serta Oji juga sangatlah buka wawasan. Sepanjang perjalanan dari sejak dermaga hingga ke kebun itu, saya banyak lihat tampa dudu (tempat duduk) atau pangkalan di kiri-kanan jalan yang dihias dengan gambar serta tulisan menarik.

Dari mulai gambar kartun Jepang, bendera negara-negara peserta piala dunia, logo group band, logo brand baju, graffity, hingga tulisan kampanye pilkada menghiasi pangkalan-pangkalan ini. Seolah ada pertandingan, tiap-tiap pangkalan seperti berkompetisi jadi yang terkeren.

“Itu tampa dudu telah harga mati disini, bang. Bila ada janji bersua, disana, bila ngumpul, disana. ” Sadam menuturkan tentang pangkalan ini “Kalau ada yang bakulai (berkelahi atau tawuran) ini tampa dudu yang dibakar duluan. Bila telah dibakar, ini harga diri telah diinjak-injak. ” lanjut Sadam sembari tertawa.

Sadam yang sempat juga jalan sendiri ke banyak tempat di Indonesia sepanjang berbulan-bulan temani kami ke Benteng Torre. Benteng Torre juga sudah alami renovasi dari kehancurannya yang tersisa seputar 30% bangunan aslinya. Benteng itu menghadap ke pulau Halmahera serta memunggungi gunung Kie Matubu. Gunung Moti serta Makeang di segi kanan tampak seperti gunung kembar di hamparan biru lautan.

Perihal gunung Kie Matubu, Sadam menceritakan perihal pendakian “obat” yang dikerjakan oleh klannya. Mendaki yang diawali dari bibir pantai, tanpa ada nada, tanpa ada alas kaki, tanpa ada bekal serta dengan baju spesial. Sesampai diatas baru diperbolehkan minum dari mata air spesifik. Pendakian itu yaitu pendakian sakral yang dikerjakan sekali satu tahun, dengan ketentuan-aturan spesifik, serta melibat kelompok jin juga sebagai “pengawas”nya.

Gunung Kie Matubu tak dapat didaki oleh asal-asalan orang. Izin dari Sohi (kuncen) gunung sangatlah diperlukan. Bila mendaki “ilegal”´bersiaplah hadapi situasi yg tidak di idamkan, seperti tertutup kabut sepanjang perjalanan atau angin kencang dan hujan. Konon, begitulah yang sudah dihadapi Oji serta Sadam sekian kali. 

Baca Juga : Jogja Bay

Awan-awan putih yang teronggok dilangit mulai terlihat kemerahan. Kami pilih jalan pulang memutari melingkari pulau. Terkecuali tampa dudu, di selama jalan di Tidore yang semua orang-orangnya beragama Islam, masjid sangatlah banyak berdiri di selama jalan. Ketika saya sholat Ashar di satu diantara masjid, jamaah dewasanya cuma saya serta Sadam serta dua orang anak-anak. Mudah-mudahan di masjid-masjid yang lain jamaahnya semakin banyak, harapan saya dalam hati.

Ada ketenangan, kenyamanan, kedamaian, serta kehangatan di kota kecil itu. Situasi yang sangatlah berkebalikan dengan kehidupan pada awal mulanya waktu di Jakarta, terutama situasi di jalanannya. Di kota kecil Tidore yang sepi itu, saya jatuh hati untuk ketiga kalinya disuatu tempat, sesudah desa Sangiang serta kota Ambon.

Selasa, 03 November 2015

Wisata Air Terjun di Curug Tilu Leuwi Opat

Hotel di Garut Dekat Mesjid Agung  - Curug yang popular dengan juga sebutan Curug Tilu Leuwi opat (Leuwi kacapi, leuwi baeud, leuwi bagong) tempatnya ada di desa Cihanjuang Rahayu Parongpong Lembang Bandung barat. salah
satu obyek wisata air terjun di Bandung yang menarik serta harus nda kunjungi saat sekalian liburan ke beragam wisata di Lembang ini, sudah diketemukan atau di buka mulai sejak th. 1996, serta di kembangkan juga sebagai salah satu destinasi Tempat Wisata Di Bandung untuk umum serta komersil mulai sejak th. 2006 silam.

Salah satu obyek wisata di bandung yang baru ini mulai sejak pembukaannya sudah dapat jadi salah satu lokasi wisata favorite warga bandung serta sekitarnya juga sebagai tempat wisata keluarga di bandung yang murah meriah, yang dipercaya dapat memberi rasa ketenangan serta kenyamanan lantaran keindahan alam nya yang demikian indah dan gemericik nada air terjun yang dapat menentramkan situasi di seputar lokasi curug tilu. 

Terkecuali aktivitas wisata khas alam lembang diatas yang dapat anda peroleh di Curug Tilu leuwi opat, tempat wisata yang berbatasan segera dengan rimba pinus seputar areal Ciwangun Indah Camp juga dilalui oleh aliran sungai yang menuju Curug Cimahi dari hulu Danau situ Lembang. Dengan luas lokasi 5 Hektar anda anda bisa dengan bebas nikmati ruang hijau serta asri di tempat ini, hingga tak salah jika lokasi wisata curug tilu ini jadi tempat favorite untuk kegiatan-kegiatan wisata yang lain yang eksklusif.


Tersebut disini aktivitas wisata yang dapat wisatawan peroleh saat bertandang ke Curug Tilu :
  1. Tempat Camping
  2. Tempat Outbound
  3. Tempat Funs Game Paint Ball
  4. Tempat Rappeling
  5. Tempat Panjat
  6. Tempat Arung Jeram
  7. Tempat Belajar perihal Alam serta Gunung Api Purba
  8. Tempat Belajar perihal Apotek Hidup
  9. Tempat Modeling Desa Wisata Siaga Bencana Patahan Lembang
  10. Tempat Pusat Komune Relawan Mitigasi bencana Indonesia.
  11. Tempat latihan Pembentukan watak bangsa.

Alamat Curug Tilu Leuwi opat Bandung

Terdapat di Kampung Ciwangun, Desa Cihanjuang Rahayu, Kecamatan Parangpong, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat.

Ticket Masuk Curug Tilu Leuwi Opat Bandung

Juga sebagai salah satu Obyek wisata baru di bandung barat tepatnya Parongpong lembang ini yang murah ini, memberlakukan harga ticket masuk Curug Tilu yaitu juga sebagai berikut

Senin – Minggu = Rp. 7. 000/orang

Tarif parkir Curug Tilu

Tersebut disini harga ticket parkir Curug Tilu Leuwi opat Cimahi :

Roda Dua/Motor = Rp. 2. 000
Roda Empat/Mobil = Rp. 3. 000

Rute menuju Curug Tilu

Object wisata di lembang bandung yang Berjarak cuma seputar 20 km atau 2 jam perjalanan dari pusat kota Bandung. Apabila pergi dari arah kota Cimahi, anda dapat ambillah arah ke Jl. Kolonel Masturi ke arah Parongpong. Jalan masuk ke curug ini terdapat di samping kiri jalan di mana di depannya di tandai Gerbang Wana Wisata Ciwangun Indah Camp. Untuk yang membawa kendaraan sendiri bisa parkir di ruang yang disiapkan di dekat pintu gerbang. masuk. Setelah itu perjalanan diteruskan dengan menyusuri jalan setapak sejauh lebih kurang 4 km dari pintu gerbang CIC ini, serta sesudahnya pasti sampailah anda di tempat wisata air terjun di bandung ini.

Nah, sekianlah info obyek wisata di bandung yang popular untuk orang-orang bandung dengan nama Curug Tilu. Untuk sekedar informasi jika anda ingin mengetahui beberapa Hotel di Garut anda dapat mengunjungi link di bawah ini.